AMAN Bidik Ekosistem Bisnis Pers yang Lebih Kuat, Media Online Didorong Jadi Mitra Promosi Dunia Usaha

Bagikan di sosmed anda

AMAN Bidik Ekosistem Bisnis Pers yang Lebih Kuat, Media Online Didorong Jadi Mitra Promosi Dunia Usaha

SUMATERA BARAT — Ketua Umum Aliansi Media Nasional (AMAN), Mahyudin Batubara atau M. Batubara, menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi bagi perusahaan media online agar mampu bertahan, berkembang, dan menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional tanpa bergantung pada kerja sama dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Pernyataan tersebut disampaikan M. Batubara dari Kantor Bareskrim Media Group di Pasaman, Sumatera Barat, Kamis (15/10/2026). Menurutnya, perusahaan media online perlu mulai memperkuat fondasi bisnis, memperluas sumber pendapatan, serta membangun sistem pemasaran yang terencana agar operasional media tidak hanya bergantung pada satu jenis pemasukan.

Ia menilai, media online tidak cukup hanya memiliki portal berita, menerbitkan informasi setiap hari, dan mengandalkan jumlah kunjungan pembaca. Media juga perlu memiliki strategi bisnis yang jelas, tim pemasaran yang aktif, produk komersial yang dapat ditawarkan kepada pasar, serta jaringan kerja sama dengan pelaku usaha.

“Penguatan ekonomi media harus menjadi perhatian bersama. Media online perlu memiliki sumber pendapatan yang beragam, sistem pemasaran yang terukur, dan produk yang memang dibutuhkan pasar. Dengan begitu, keberlangsungan perusahaan media tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan,” demikian inti gagasan yang disampaikan dalam pembahasan mengenai kemandirian ekonomi media.

Media Harus Memiliki Sumber Pendapatan yang Beragam

M. Batubara memandang bahwa salah satu tantangan perusahaan media online adalah belum optimalnya pengembangan usaha di luar penerbitan berita. Padahal, kemampuan mengelola bisnis merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan pers.

Untuk itu, media perlu mulai memetakan sumber pendapatan yang bisa dikembangkan sesuai kapasitas, karakter pembaca, wilayah jangkauan, dan jaringan usaha masing-masing.

Sejumlah bidang usaha yang dapat dikembangkan antara lain:

  1. Penjualan iklan langsung kepada perusahaan swasta

Media dapat membangun daftar calon pengiklan dari berbagai sektor, seperti perkebunan, pertanian, perdagangan, properti, pendidikan, transportasi, pariwisata, kuliner, hingga perusahaan jasa.

Mekanismenya, perusahaan media menyusun daftar calon pelanggan, menghubungi bagian pemasaran atau pemilik usaha, mengirimkan proposal, menawarkan pilihan paket iklan, kemudian membuat kesepakatan tertulis mengenai harga, durasi, penempatan iklan, dan laporan pelaksanaan.

Media juga perlu memiliki petugas pemasaran yang bertanggung jawab menindaklanjuti calon pelanggan. Dengan sistem tersebut, penjualan iklan tidak hanya menunggu pihak pengiklan datang, tetapi dilakukan melalui pendekatan bisnis secara aktif.

  1. Paket promosi untuk UMKM dan pelaku usaha lokal

Media online dapat menyediakan paket promosi dengan harga yang disesuaikan untuk usaha kecil dan menengah. Sasaran pasarnya meliputi warung makan, toko, bengkel, usaha kerajinan, produk pertanian, usaha rumahan, hingga bisnis lokal yang ingin memperluas jangkauan pemasaran.

Produk yang ditawarkan dapat berupa:

Profil usaha dan publikasi promosi yang diberi label secara jelas.
Banner iklan pada portal berita.
Konten foto dan video produk.
Promosi melalui akun media sosial media.
Paket publikasi untuk peluncuran produk atau pembukaan usaha.
Kampanye promosi dalam periode tertentu.

Mekanismenya dimulai dengan mendata UMKM potensial, memahami kebutuhan promosi mereka, menyusun paket berdasarkan anggaran, membuat materi setelah mendapat persetujuan pelanggan, menerbitkan konten sesuai kesepakatan, lalu memberikan laporan hasil pekerjaan.

Tarif, jangkauan, dan hasil promosi harus dijelaskan secara transparan. Media juga tidak boleh menjanjikan peningkatan penjualan tertentu jika hasilnya tidak dapat dijamin.

  1. Layanan produksi multimedia

Perusahaan media dapat mengembangkan layanan produksi video profil perusahaan, dokumentasi kegiatan, siaran langsung, podcast, fotografi, video promosi, serta penyuntingan konten untuk kebutuhan digital.

Layanan ini bisa menyasar perusahaan swasta, UMKM, lembaga pendidikan, penyelenggara kegiatan, komunitas, dan organisasi masyarakat.

Mekanismenya, media membuat katalog layanan, contoh hasil produksi, daftar harga, serta alur pemesanan. Setiap proyek memiliki ruang lingkup pekerjaan, jadwal produksi, biaya, ketentuan revisi, dan jadwal pembayaran yang disepakati sejak awal.

Dengan demikian, perusahaan media memiliki peluang memperoleh pendapatan dari keterampilan jurnalistik, kemampuan produksi, peralatan, serta jaringan tenaga kreatif yang dimiliki.

  1. Pengelolaan media sosial dan pemasaran digital

Tidak semua pelaku usaha memiliki tenaga khusus untuk mengelola media sosial. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi perusahaan media yang memiliki sumber daya desain, penulisan, fotografi, dan video.

Layanan yang bisa ditawarkan meliputi pembuatan kalender konten, desain materi promosi, penulisan caption, produksi video pendek, penjadwalan publikasi, dan laporan kinerja akun.

Mekanismenya dilakukan melalui kontrak bulanan dengan rincian jumlah konten, format materi, jadwal unggahan, tanggung jawab masing-masing pihak, serta indikator evaluasi yang realistis.

  1. Kerja sama pemasaran dengan perusahaan dan distributor

Media dapat menjalin hubungan bisnis dengan distributor produk, perusahaan perdagangan, agen perjalanan, penyedia jasa, serta pelaku industri di daerah.

Kerja sama dapat berupa kampanye pemasaran, promosi produk, publikasi kegiatan usaha, atau produksi materi komunikasi perusahaan. Seluruh kerja sama harus memiliki kesepakatan yang jelas dan tidak boleh mengubah fakta dalam pemberitaan.

AMAN Dapat Mengembangkan Jaringan Iklan Bersama

Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan adalah membangun jaringan pemasaran iklan bersama di antara media-media anggota AMAN.

Menurut pendekatan ini, media yang selama ini bekerja sendiri-sendiri dapat saling terhubung untuk memperluas penawaran kepada calon pengiklan. Perusahaan yang ingin menjangkau beberapa kabupaten, provinsi, atau wilayah di Indonesia dapat ditawarkan paket promosi melalui sejumlah media anggota sesuai kebutuhan kampanyenya.

Agar mekanismenya berjalan tertib, terdapat beberapa tahapan yang dapat disiapkan:

Tahap pertama: pendataan media anggota.
AMAN mendata nama perusahaan media, alamat portal, wilayah jangkauan, kategori pembaca, kanal media sosial, jenis layanan, serta kontak bagian pemasaran. Data tersebut menjadi dasar penyusunan katalog jaringan media.

Tahap kedua: penyusunan katalog dan paket iklan.
Media anggota menyampaikan tarif dan layanan yang tersedia. Dari data itu, dapat disusun paket iklan lokal, lintas kabupaten, lintas provinsi, atau paket nasional sesuai kapasitas jaringan yang benar-benar tersedia.

Tahap ketiga: pembentukan tim pemasaran.
Apabila disepakati oleh organisasi dan media anggota yang berpartisipasi, tim pemasaran dapat mencari calon pengiklan, menyampaikan proposal, mengelola komunikasi, dan mengoordinasikan pelaksanaan kampanye.

Tahap keempat: kontrak dan pembagian pendapatan.
Sebelum kampanye dimulai, para pihak harus menyepakati nilai kontrak, porsi pembayaran untuk setiap media, biaya koordinasi apabila ada, tenggat pembayaran, kewajiban publikasi, serta prosedur penyelesaian keluhan. Tidak boleh ada potongan atau pembagian pendapatan yang tidak disepakati.

Tahap kelima: pelaksanaan dan laporan.
Setiap media menerbitkan materi sesuai pesanan dan ketentuan yang berlaku. Setelah kampanye selesai, pengiklan menerima laporan berupa tautan publikasi, periode tayang, dokumentasi, dan metrik yang memang tersedia.

Model tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual media anggota melalui jaringan yang lebih luas. Namun, penerapannya membutuhkan kesiapan administrasi, sistem pembayaran, standar layanan, dan persetujuan para pihak.

Membangun Produk dan Layanan yang Bisa Dijual

M. Batubara juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir pengelola media. Perusahaan pers perlu memisahkan pekerjaan redaksi dari kegiatan pemasaran, tanpa mengabaikan kebutuhan agar keduanya berkoordinasi secara profesional.

Redaksi bertanggung jawab menjaga kualitas berita, verifikasi, independensi, dan kepentingan publik. Sementara itu, bagian bisnis bertanggung jawab mencari pelanggan, menyusun penawaran, mengelola kontrak, serta memastikan layanan komersial dilaksanakan sesuai kesepakatan.

Pemisahan fungsi tersebut penting agar kepentingan pengiklan tidak menentukan isi berita. Materi berbayar harus diberi penanda yang sesuai, misalnya iklan, advertorial, atau konten bersponsor, sehingga pembaca dapat membedakan produk komersial dari karya jurnalistik.

Untuk membantu media anggota, AMAN dapat mendorong pengembangan sejumlah perangkat bisnis, antara lain:

Katalog produk media, berisi pilihan iklan, promosi, produksi multimedia, dan layanan digital.
Proposal penawaran standar, yang dapat disesuaikan oleh masing-masing media.
Daftar harga dan ketentuan layanan, termasuk durasi tayang, spesifikasi materi, dan kebijakan revisi.
Basis data calon pelanggan, agar tindak lanjut pemasaran dilakukan secara teratur.
Format kontrak dan kuitansi, untuk memperjelas kewajiban para pihak.
Format laporan pelaksanaan kampanye, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pelanggan.
Pelatihan penjualan dan negosiasi, agar pengelola media mampu menawarkan produk secara profesional.
Evaluasi pendapatan berkala, untuk mengetahui layanan yang diminati dan biaya operasional yang perlu dikendalikan.

Perangkat tersebut tidak harus langsung diterapkan secara serentak. Setiap media dapat memulai dari layanan yang paling siap dijalankan, kemudian mengembangkan produk lainnya berdasarkan kemampuan dan permintaan pasar.

Program Penguatan Ekonomi Menjadi Bagian dari Arah Program AMAN

Dalam konteks organisasi, penguatan ekonomi media dapat menjadi bagian dari arah program Aliansi Media Nasional (AMAN). Organisasi ini menghimpun pengelola dan pemilik media online dengan perhatian pada pengembangan kapasitas, profesionalisme, jaringan, serta keberlanjutan usaha media.

Melalui arah program tersebut, AMAN dapat mendorong anggotanya agar tidak hanya berfokus pada produksi berita, tetapi juga memahami cara membangun perusahaan media yang sehat secara bisnis.

Bentuk kegiatan yang dapat disiapkan meliputi:

Pendataan dan pemetaan usaha anggota, untuk mengetahui kebutuhan dan potensi setiap media.
Pendidikan bisnis media, mencakup pemasaran iklan, penyusunan proposal, negosiasi, pengelolaan pelanggan, dan administrasi keuangan.
Pengembangan jaringan pengiklan, dengan menjajaki perusahaan swasta dan pelaku UMKM.
Penyusunan katalog layanan anggota, agar produk dan jasa media lebih mudah ditawarkan kepada calon pelanggan.
Kolaborasi pemasaran lintas wilayah, apabila media peserta telah menyepakati mekanisme operasional dan pembagian hasil.
Pendampingan pengembangan layanan digital, termasuk produksi video, pengelolaan media sosial, dan promosi usaha.
Evaluasi dan pertukaran pengalaman, agar anggota dapat mempelajari model bisnis yang berjalan baik dan menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing.

Program tersebut perlu disusun secara bertahap melalui pendataan, perumusan aturan pelaksanaan, penetapan penanggung jawab, penyusunan anggaran bila diperlukan, serta evaluasi hasil. Pelaksanaannya tetap memerlukan keputusan dan kesiapan organisasi; rincian di atas merupakan usulan bentuk program, bukan pernyataan bahwa seluruh kegiatan telah resmi diluncurkan.

Tidak Bergantung pada Pemerintah Bukan Berarti Menutup Kerja Sama

M. Batubara menegaskan dalam arah gagasan tersebut bahwa kemandirian ekonomi media tidak berarti media harus menolak seluruh bentuk kerja sama dengan pemerintah.

Kerja sama dengan pemerintah tetap dapat dilakukan sepanjang sesuai aturan, transparan, dan tidak mengganggu independensi redaksi. Namun, perusahaan media sebaiknya tidak menggantungkan seluruh biaya operasionalnya pada satu jenis kontrak atau satu kelompok pelanggan.

Diversifikasi pendapatan dapat membantu perusahaan menghadapi perubahan anggaran, persaingan usaha, perubahan pola konsumsi berita, dan perkembangan teknologi digital.

Media juga perlu menghitung biaya server, domain, gaji dan honorarium, perangkat kerja, transportasi liputan, produksi konten, serta biaya administrasi. Perencanaan keuangan yang tertib memungkinkan pengelola mengetahui batas minimum pendapatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasional.

Dengan kata lain, kemandirian ekonomi bukan hanya soal memperoleh banyak iklan, melainkan membangun usaha yang memiliki pelanggan beragam, pengeluaran terukur, administrasi tertib, dan reputasi yang dipercaya.

Menjaga Kepercayaan Publik sebagai Modal Bisnis

Di tengah persaingan media digital, kepercayaan publik tetap menjadi modal utama. Perusahaan media yang menawarkan jasa promosi harus tetap menjaga akurasi informasi, melakukan verifikasi, menghormati hak jawab, serta mematuhi ketentuan jurnalistik dan peraturan yang berlaku.

Kegiatan komersial tidak boleh menjadi alasan untuk mengubah fakta, menghapus kritik yang sah, atau memberikan perlakuan khusus dalam pemberitaan kepada pelanggan. Hubungan bisnis dan kerja jurnalistik harus memiliki batas yang tegas.

Bagi AMAN, penguatan ekonomi media diharapkan dapat menjadi dorongan bagi anggota untuk membangun perusahaan pers yang lebih profesional, memiliki produk usaha yang jelas, dan mampu mempertahankan kegiatan jurnalistik secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, media yang memiliki fondasi bisnis sehat diharapkan lebih leluasa menjalankan fungsi informasinya kepada masyarakat, tanpa kehilangan independensi dan tanggung jawab kepada publik.

(Tim AMAN)

Tingalkan komentar anda

Verified by MonsterInsights