
Semangat Syiar Islam Menggema dari Desa Sontang: Kades Zulfarianto Hadiri Penyambutan Hari Besar Islam di Masjid Al Mukmin
ROKAN HULU– Cahaya syiar Islam kembali bersinar dari pelosok negeri. Malam Sabtu yang khidmat di Masjid Besar Al Mukmin, Dusun Titian Gading, Desa Sontang, menjadi saksi hidup bangkitnya semangat keimanan dan kebersamaan umat dalam rangka penyambutan hari besar Islam.
Undangan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, alim ulama, pemuda, serta warga setempat itu juga dihadiri langsung oleh Kepala Desa Sontang, Zulfarianto, SE. Kehadiran orang nomor satu di desa tersebut menjadi simbol nyata bahwa pemerintah desa tidak hanya hadir dalam urusan administratif, tetapi juga berdiri di garis depan dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan budaya keagamaan masyarakat.
Suasana malam itu terasa berbeda. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menembus sunyi malam, seolah mengingatkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kokohnya fondasi iman masyarakatnya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulfarianto SE menegaskan bahwa momentum hari besar Islam bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi bersama untuk memperkuat persatuan dan moralitas sosial.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban. Dari masjid lahir generasi yang kuat, jujur, dan berintegritas. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan keagamaan sebagai pondasi membangun masyarakat yang bermartabat,” tegasnya di hadapan jamaah.
Pernyataan itu bukan tanpa makna. Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, kegiatan keagamaan seperti ini menjadi benteng terakhir menjaga identitas dan karakter bangsa. Desa Sontang, yang mungkin hanya titik kecil di peta Indonesia, malam itu menjelma menjadi simbol besar bahwa kekuatan spiritual masyarakat Indonesia tetap hidup dan tak tergoyahkan.
Para tokoh masyarakat yang hadir juga mengapresiasi kepedulian pemerintah desa.
Mereka menilai kehadiran kepala desa secara langsung bukan sekadar formalitas, melainkan bukti kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan peduli terhadap kehidupan keagamaan.
Fenomena ini menjadi pesan kuat, bukan hanya untuk tingkat daerah atau nasional, tetapi juga bagi dunia internasional: bahwa harmoni, toleransi, dan kekuatan moral masih tumbuh subur di desa-desa Indonesia.
Di saat dunia diwarnai konflik dan krisis identitas, Desa Sontang justru menunjukkan wajah lain Indonesia—tenang, religius, bersatu, dan penuh harapan.
Malam itu, bukan hanya peringatan hari besar Islam yang disambut. Tetapi juga harapan baru—bahwa dari masjid sederhana di pelosok negeri, cahaya peradaban akan terus menyala, menerangi masa depan bangsa.
(DR)