
Bupati Rokan Hulu Nongkrong Bareng Wartawan dan Masyarakat,Di Ampera Boru Lubis Bahas Masa Depan Daerah
*ROKAN HULU, RIAU* – Di tengah tekanan efisiensi dan pemotongan anggaran di berbagai daerah, suasana berbeda terlihat di Kabupaten Rokan Hulu. Bupati Rokan Hulu duduk santai bersama wartawan, tokoh masyarakat, dan pegiat sosial di kawasan Km 1, menikmati kopi panas dan gorengan sambil membahas masa depan daerah.
Pertemuan hangat itu bukan sekadar silaturahmi. Dari meja kecil tempat kopi disajikan, lahir pembicaraan serius soal pembangunan daerah, kondisi sosial masyarakat, hingga persoalan perlindungan anak yang kini menjadi perhatian publik.
Hadir juga Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Rokan Hulu, Ramlan Lubis. Suasana sesekali dipenuhi canda tawa, namun di balik itu tersimpan pembahasan mendalam mengenai arah pembangunan Rokan Hulu ke depan.
Bupati menegaskan keterbatasan anggaran bukan alasan menghentikan kemajuan daerah. Pembangunan harus tetap berjalan, baik di perkotaan maupun pedesaan, demi menciptakan Rokan Hulu yang lebih maju, tertata, dan indah.
“Walaupun ada pemotongan anggaran hingga puluhan persen, semangat membangun daerah tidak boleh ikut dipotong. Pemerintah harus tetap hadir untuk masyarakat,” ujarnya.
Diskusi juga menyinggung persoalan anak dan generasi muda. Ramlan Lubis menilai perhatian pemerintah terhadap perlindungan anak harus terus diperkuat di tengah perkembangan sosial yang semakin kompleks. Ia berharap sinergi pemerintah, masyarakat, dan media dapat menjadi benteng menjaga masa depan anak-anak di Rokan Hulu.
Kehadiran wartawan menjadi simbol penting bahwa media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga mitra kritis mengawal pembangunan daerah. Dari obrolan ringan di warung kopi, lahir masukan dan kritik membangun demi kemajuan “Negeri Seribu Suluk”.
Masyarakat yang ikut bergabung mengaku tersentuh melihat pemimpin daerah yang mau duduk bersama tanpa sekat protokoler. Di tengah kondisi ekonomi menantang, pendekatan sederhana dinilai mampu memperkuat kedekatan pemerintah dan rakyat.
Pertemuan di Km 1 itu menjadi gambaran bahwa pembangunan besar tidak selalu dimulai dari ruang rapat mewah. Terkadang, ide terbaik lahir dari secangkir kopi, gorengan hangat, dan percakapan jujur bersama masyarakat.
(DR)